Semenjak tahun 1930an Bali telah mulai menjadi obyek kunjungan dalam bentuk
wisata khususnya oleh warga Belanda. Bahkan ada berita bahwa kapal dagang Belanda yang bernama KPM
merupakan kapal yang singgah secara reguler di pelabuhan Pabean Singaraja waktu itu. Hal ini akibat
dari besarnya perhatian pemerintah Belanda dalam hal kebudayaan. Maklum Belanda saat itu sudah merupakan
salah satu negara paling modern di dunia, sehingga pengetahuan masyarakatnya sudah jauh melampaui
bangsa-bangsa lain. Ketinggian peradaban bangsa Belanda juga membawa dampak lain terhadap kebudayaan
Bali, yakni penggalian sejarah kebudayaan dan usaha pelestariannya. Itulah sebabnya banyak tokoh
masyarakat mereka seperti arekeolog, seniman, antropolog, sosiolog, sejarahwan, dan jurnalist banyak
yang mengeksplorasi kebudayaan Bali dan membantu pemerintah kolonial untuk merekonstruksi aspek fisik
dan sejarah. Hasil kerja mereka meyebar bak berita hangat ke seluruh Eropah, bahkan Amerika dan
Australia. Sebenarnya tidak hanya Bali, tapi seluruh wilayah Indonesia telah digarap cukup luas dan
dipublikasikan dengan baik sehingga terbentuklah opini bahwa Bali adalah sorga terakhir yang ditemukan
oleh pemerintah kolonial Belanda yang terletak di antara zambrud khatulistiwa.
Belakangan bukan saja tokoh-tokoh masyarakat Belanda saja yang datang ke Bali untuk mengungkap misteri
kebudayaan, tetapi malah banyak akhli dari Amerika, Australia dan negara-negara modern lainnya di
Eropah. Di antara tokoh-tokoh masyarakat Belanda yang telah mengabdikan dirinya untuk mengungkap tabir
sejarah kebudayaan Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya adalah Prof. JLA Brandes, Prof. Ir. JL. Moen,
Prof. Dr. Dubois, Dr. VS Calenfels, Prof Dr. Goris, dan lainya. Di bidang kesenian tercatat nama harum
seperti Walter Spies, Robert Bonnet, Le Mayeur, Antonio Blanco, dan yang lainnya. Bahkan para seniman
Eropah ini telah membuka mata seniman Bali untuk go international melalui berbagai pameran yang
difasilitasi oleh pemerintah kolonial. Karya kebudayaan dan kenaikan popularitas Bali terus berlanjut
sampai perang dunia II, dan mencapai kemerdekaan.
Banyak tokoh masyarakat Belanda yang terus bekerja di Indonesia setelah jaman kemerdekaan, bahkan ada
yang menjadi WNI, seperti Prof. Dr. Goris yang meninggal dan dikubur di Bali, Don Antonio Blanco dan
yang lainnya. Pada tahun 1990an Bali telah menjadi salah satu tujuan wisata besar dunia. Entah berapa
besar sumbangan devisa yang telah diberikan kepada negara, pulau dan manusia Bali sehingga kehidupan
sudah mulai membaik, khususnya di lingkungan ekonomi menengah ke bawah. Bali bagaikan sebuah etalase
bagi produk Indonesia, khususnya produk kerajinan tangan dan semi mesin, investasi ketenagakerjaan, dan
sebagainya. Mulai tahun 1990an produk wisata Bali mulai dikemas seperti melampaui fakta di lapangan,
seperti beridiri sendiri melewati kemampuan daya tampung ruang dan persepsinya yang utuh. Mulailah
dikenal pkaet-paket yang beragam mulai paket tour murah, pilihan tour murah, paket hotel murah, paket
rekreasi murah, paket petualangan murah, dan berbagai paket murah lainnya. Demikian juga unggulan produk
wisata bukan saja yang berasal dari warisan budaya Bali tapi bentuk-bentuk kreasi baru muncul seperti
kapal pesiar, diskotek, petualangan buatan, taman binatang, berbagai masakan asing, dan sebagainya.
Sampai 12 Oktober 2002 semua harapan dan keberhasilan Bali menyumbang kepada kepentingan nasional ambruk
ketika kelompok terorist yang mengatasnamakan Islam mengebom musuhnya di Legian. Mereka berdalih bahwa
Bali telah dicemari oleh antek kafir yang merugikan Indonesia. Tidak sampai 1 tahun setelah bom ratusan
truk produk kerajinan dan produk lain yang masuk Bali per hari berhenti total, khususnya produk dari
Jawa. Tidak terhindari lagi ribuan pengrajin di Jawa bangkrut, demikian juga di Eropah, dan Amerika
tambah parah karena lebih dulu sudah kena serangan teroris. Kondisi parah ini bukan saja memukul bisnis
di Indonesia, tapi seluruh jasa yang berkaitan dengan wisata di negara lain. Dari Australia saja
dikirimkan daftar ratusan perusahan dianggap tidak layak bayar pajak ( menunggu kebangrkutan ). Kondisi
parah ini bukan saja memukul bisnis dunia yang berkaitan dengan jasa wisata tapi juga jasa-jasa lain
dan barang. Buktinya setelah bom di London dan kereta api di Spanyol banyak perusahan besar menutup
cabangnya di negara lain untuk menjaga keselamatan warganya. Negara-negara kaya dan maju berlomba-lomba
mengeluarkan travel ban dan travel warning agar jangan bepergian ke negara-negara yang dianggap sarang
terorist. Beberapa kalangan melihat akselerasi teror dan kecendrungan larangan travel ini diperkirakan
akan memicu petaka besar berikutnya yaitu matinya perdagangan internasional yang akan menimbulkan
krisis ekonomi global, dan justru ini akan
berimbas pertama-tama kepada negara industri maju. Dampaknya kepada negara-negara miskin akan lebih
belakangan karena pada umunya di negara miskin orang atau keluarga masih memenuhi kebutuhan hidup
sendiri ( self sufficiency ) khususnya bagi mereka yang hidup di pertanian, namun akan sangat parah
dampaknya bagi mereka yang hidup di perkotaan yang sudah menjalani hidup saling ketergantungan.
Renungan 25 November 2005 |