SEKS RUMOR BANDUNG

Kota Bandung adalah salah satu kota besar di pulau Jawa dan bagi masyarakat Indoensia kota ini lebih
dikenal sebagai kota pelajar dan kota industri, dan pusat perkebunan teh. Sekolah teknologi pertama
Indonesia setelah kemerdekaan dibangun di Bandung seperti Institut Teknologi Bandung atau disingkat
ITB yang sangat terkenal. Di samping itu industri fabrik seperti jean juga sangat dikenal di Bandung,
di samping industri pesawat terbang Nusantara yang disingkat IPTN.
Sebagai dampak langsung dari perkembangan pendidikan dan industri di Bandung, kota ini menarik banyak
murid dan pekerja. Murid atau mahasiswa berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dan para pekerja
khususnya dari daerah-daerah pedesaan dan kota-kota kecil di pulau Jawa. Pertambahan jumlah penduduk
yang tidak terkendali menyebabkan berbagai masalah sosial di dalam kota Bandung sendiri dan lingkungannya
yang tidak beda dengan kota-kota besar lainnya. Hal ini merupakan kegagalan pemerintah kota atau
provinsi untuk mengantisipasi persoalan sosial tersebut atau mungkin tidak adanya visi yang jelas
terdahap dampak dari pertambahan penduduk yang tidak terkendali tersebut. Memang ini bukanlah tugas
pemerintah Bandung sendiri, tapi berhubungan dengan kegagalan di tempat lain juga karena penduduknya
merasa kurang mendapatkan keperluannya di daerahnya sendiri maka pergi ke daerah lain.
Secara lokasi Bandung tidak jauh dari Jakarta hanya 2 jam dengan kendaraan melalui tol Cikampek,
sehingga pengaruh yang diberikan oleh Jakarta bias bersifat instant, walaupun belum adanya
teknologi komunikasi yang demikian canggih sekarang ini seperti internet dan telpun genggam.
Bandung adalah juga sebuah kota yang banyak dibicarakan mengenai kehidupan seks dan prostitusinya,
walaupun faktanya kota-kota lain tidak lebih bagus dari Bandung. Sudah menjadi rahasia umum bahwa
kehidupan seks di Bandung begitu marak, dan perlu didengar oleh tokoh masyarakat, karena hanya dengan
kata kunci yang paling sederhana sudah bisa membuka tabir terhadap kota ini.
Beberapa orang bahkan tokoh telah menuding kehidupan modern dan hiburan sebagai biang keladi dari
maraknya kehidupan seks bebas ini, bahkan ada yang menyebutkan hiburan tradisional. Bahkan ada
sekelompok masyarakat mencoba membangun penghalang antara mereka dengan kemajuan teknologi seperti
memblokir internet, membuat undang-undang pornografi, dan mewajarkan poligami. Sebenarnya cara-cara
ini cocok untuk anak TK, bukan orang dewasa, karena undang-undang maupun sikap reaktif seprti ini
sangat mudah untuk diakali, undang-undang sifatnya tetap, sedangkan teknologi mengatasinya.
Seperti kenyataan bahwa mereka yang membangun tembok China sebagai pengahalang teknologi akan semakin
terpuruk dan dimakan oleh teknologi. Seharusnya persoalan bukan diusir atau dihindari tapi dihadapi dan
dipelajari untuk mengetahui caranya menghindari.
Praktek seks bebas adalah penyakit, sebuah penyakit sosial, maka tidak mungkin untuk memblokirnya,
karena jika ada rembesan dampaknya akan lebih besar, karena kita tidak sadar sama sekali.
Jika agama yang masih mengajarkan tidak mengakuinya, maka tentunya agama membiarkan masyarakat
akan kena dampak yang tak tebayangkan akibatnya. Sangat disayangkan jika sampai masyakarat yang
tidak berdosa juga kena dampak dari pergaulan bebas ini seperti penyakit yang mematikan tersebut.
Selama metode penanganan penyakit sosial ini tetap dengan cara tidak mengakuinya maka selama itu
akan tetap persebarannya tidak diketahui, dan menghantui setiap orang yang ingin hidupnya bersih
dan sehat.
Internet dan telpun genggam adalah pencapaian terbesar dalam teknologi komunikasi dan dengan
teknologi ini pula terungkap betapa bejat kehidupan di balik gemerlapnya kemajuan ekonomi dan sosial.
Dan ini justru akibat ketidakmampuan para tokoh yang punya pengaruh di masyakarat untuk memberikan
penerangan dan pengetahuan yang cukup untuk menghadapi persoalan ini. Bahkan kehidupan kelam ini
sering dimaafkan karena alasan ekonomi, dan faktanya kebanyakan mereka berkecukupan sehingga lebih
memunculkan aspek mental. Ada suatu harapan besar dari masyarakat bahwa praktek semacam ini bisa
dikontrol, sehingga secara keseluruhan masyakat kelihatan lebih beradab, karena sudah jelas bahwa
ada peraturan, ada tradisi, dan ada pula emosi yang harus menghadapi persoalan ini.
Bandung bagi Indonesia seperti disebutkan di atas lebih dikenal sebagai kota pelajar dan kota industri,
dan harapan besar bahwa nama ini benar-benar mencerminkan kondisi tersebut, sehingga bisa mengurangi
ketakutan orang tua terhadap keberadaan anak-anaknya, dan ketakutan para istri atau suami terhadap
kebaradaan masing-masing. Pengungkapan kehidupan seks di Bandung oleh teknologi modern merupakan
ajakan bagi tokoh masyarakat untuk introspeksi diri dan menemukan jalan terbaik untuk menata kehidupan
yang lebih baik bukan saja di bidang ekonomi tapi di bidang pengetahuan sehingga terbentuk mental
yang kokoh menghadapi kehidupan seks bebas yang mengancam kesehatan masyarakat.
|