SEKS DAN KEHIDUPAN BALI

Beberapa orang membicarakan tentang seks merupakan sebuah topik yang tidak ada yang lebih manarik, tapi
bukan di tempat umum sebagai bahan pelajaran atau pendidikan tentang seks. Penulis percaya bahwa
seks sampai saat ini bagi semua bangsa di dunia masih menganggap adalah hal yang paling pribadi
sifatnya, dan tidak etis untuk membicarakannya di tempat umum, dan bukan juga sebagai aspek pendidikan
dalam usaha untuk meningkatkan kesadaran manusia tentang kesehatan. Tidak terkecuali tentang
persoalan seks di Bali, ketika pengaruh kehidupan seks bebas menyentuh Bali, para tokoh tetap tutup
telinga dan mata tentang bahaya yang kemungkinan merambah masyarakat tanpa diketahui. Inilah merupakan
sikap yang paling salah dalam menghadapi sudatu gejala sosial dengan cara tidak mengakui keberadaannya,
tapi nyatanya sudah sangat kasat mata, dan sikap ini akan menghancurkan tatanan sosial. Dalam sejarah
kebudayan Bali seks bukan saja dipandang sebagai sesuatu hubungan yang menyenangkan secara pribadi,
tapi juga dianggap sebagai fungsi sosial yang sakral, sehingga dianggap perlu adanya pembentukan
kepranataan yang ketat berupa pembentukan keluarga yang dibatasi oleh berbagai etika sosial. Dan justru
jika pranata sosial ini ingin dipertahankan agar masyarakat tetap kokoh, maka bahaya dari seks bebas
harus segera ditanggulangi, pertama-tama harus adanya pengakuan bahwa praktek itu ada. Setelah itu
barulah diatur sesuai dengan tujuan.
Secara mendasar tradisi pemenuhan kebutuhan seks di Bali berdasarkan monogami, kecuali raja-raja
sampai awal abad ke-20. Pengaruh Hindu dan Buddha lebih memberikan penguatan terhadap etika monogami,
dengan memberikan ajaran bahwa keadilan bagi sebuah anak adalah yang utama, dan jika ada anak lahir
tanpa jelas etika pranatanya maka akan dicap "anak bebinjat" yang bagi orang Bali istilah ini
tidak lebih bagus dari golongan Paria ( untouchable ) di India. Semenjak abad ke-16th jumlah kelahiran
di Bali sebenarnya sudah dibatasi untuk tiap keluarga paling banyak 4 anak seperti adanya nama-nama
sesuai nomor urut yaitu anak pertama Wayan, selanjutnya Made, Nyoman, dan Ketut. Bagi mereka yang punya
anak lebih dari 4 akan ada rasa malu secara sosial, apalagi kedaan ekonominya tidak berkecukupan.
Namun demikian akibat tindakan beberapa raja Bali di masa lampau mengakibatkan juga pengaruh terhadap
segelintir laki-laki Bali yang menganut poligami. Dari hasil pengamatan kasar beberapa laki-laki Bali
yang melaksanakan poligami tersebut adalah mereka yang malas atau seperti mengidap kelainan jiwa ringan.
Namun sekarang ini hampir tidak bisa ditemukan lagi laki-laki Bali yang menganut poligami, kecuali alasan
tidak punya anak. Pergeseran pemaknaan seks itu sendiri juga mengakibatkan banyak perubahan di Bali. Di
masa lampau wanita dipandang sebagai media untuk mencapai kepuasan seks, tapi sekarang ini dengan
berkembangnya pengetahuan, maka baik laki-laki maupun wanita ternyata diketahui mempunyai kebutuhan
yang sama, hanya saja wanita masih diberi beban mental akan adanya kelahiran akibat perbuatan seks.
Dengan adanya pengertian bahwa wanita dan laki-laki mempunyai kebutuhan yang sama maka ini akan
mengakibatkan usaha-usaha dari keduabelah pihak untuk mempertahankan daya tarik masing-masing.
Adanya pengetahuan tentang seks ini juga mengakibatkan dampak samping untuk segelintir orang yaitu
memanfaatkan pengetahuan ini untuk kepentingan diri sendiri dan mengolok-olok mereka yang tidak
berpengetahuan. Memang disadari setiap pengetahuan akan memberikan dampak baik maupun dampak buruk,
tergantung yang menggunakan. Penyimpangan seks terjadi juga akibat dari ketidaktahuan masyarakat
tentang fakta dan mitos. Para tokoh masyarakat mestinya sudah mulai berani menjelaskan mana yang
mitos mana yang fakta, karena bagaimanapun berdasarkan mitos akan menjatuhkan masyarakat itu
sendiri.
Sampai saat ini bagi siapapun di Bali hubungan seks yang dianggap ideal adalah setelah diadakannya
upacara pernikahan resmi dan dilakukan dengan satu pasangan yang tetap, karena kebanyakan sudah
memahami bahwa banyak penyakit disebarkan lewat seks bebas atau dengan bukan pasangan yang sudah
dikenal sejak awal yaitu suami dan istri. Walaupun tidak dibantah segelintir orang juga melakukan
hubungan seks dengan bukan pasangannya atau penjaja seks komersial. Penyakit transmisi lewat seks
yang mematikan seperti HIV sudah demikian mengkawatirkan di samping penyakit-penyakit convensional
seperti GO dan SP yang bahkan lebih kuat dari masa lampau. Inilah perlunya pemerintah memperjuangkan
bahwa praktek-praktek ini haruslah mendapat pengakuan dari masyarakat Indonesia, sehingga bisa
diatur dan dilokalisir. Tidaklah lebih benar bahwa dengan mengingkari adanya praktek ini pada waktu
praktek ini merajalela lalu agama menjadi terhormat, justru dalam kenyataan agama dianggap gagal,
karena suara keras tapi praktek semakin menjadi-jadi, sehingga bisa saja dikemudian hari agama tidak
lagi dipandang sebagai kontrol sosial yang baik.
Situasi di Bali agak sedikit lebih kompleks karena adanya pergaulan internasional, sedangkan kebutuhan
akan kesehatan jasmani adalah faktor utama untuk membentuk masyarakat Bali yang mampu mempertahankan
kebudayaannya. Karena kebudayaan itu pulalah yang menyebabkan bali bisa bergaul secara
international, jadi hal ini sangat dilematis, jika pemerintah dalam hal ini lewat sekolah dan
pendidikan informal mempunyai pendidik yang berpengatahuan dalam aspek-aspek sosial budaya dan
ekonomi yang cukup mapan.
|