MOJANG PARAHYANGAN

Bandung adalah ibukota provinsi Jawa Barat yang sekarang ini meliputi daerah yang sangat luas di bagian
Barat pulau Jawa setelah dikurangi dengan wilayah Jakarta dan Provinsi Banten. Banten berpisah dari
Jawa Barat sekitar tahun 2000 karena adanya kepentingan golongan tertentu untuk bisa mengelola wilayah
setingkat provinsi sehingga bisa mengelola dana masyarakat. Mulai abad ke-17 Jakarta telah menunjukkan
diri sebagai pusat kegiatan komersial modern, sedangkan Bandung masih merupakan sebuah kota di
pegunungan yang dipakai oleh kolonial untuk menempatkan pasukan. Dilihat dari keseluruhan pulau Jawa
dan kebudayaannya Jawa Barat mempunyai karakteristik yang bisa dikatakan cukup berbeda.
Jawa sebagai yang dimengerti oleh orang Jakarta dan Bandung adalah Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Jawa Barat dalam tradisi sejarah disebut dengan daerah Parahyangan atau Pasundan dengan pendek kata
Sunda. Istilah Sunda sekarang dipakai untuk menyebut penduduk Jawa Barat sebagai Orang Sunda, dan mereka
mempunyai bahasa yang agak berbeda dengan Jawa pada umumnya, dan sejarah yang terpisah dengan Jawa, kecuali
mulai abad ke-13, ketika kerajaan Pajajaran menjadi bagian dari kerajaan Jawa Majapahit. Nama cewek
Bandung begitu terkenal di Indonesia, atau sering juga disebut mojang parahyangan.
Dalam perjalanan sejarah Bandung sebagai ibukota dari Jawa Barat telah berkembang menjadi salah satu
kota besar yang penuh dengan aktivitas komersial, industri, dan pendididikan. Oleh karena itu kota
ini dipenuhi dengan berbagai fasilitas administrasi pemerintahan, industri, pendidikan dan perdagangan.
Di masa lampau Bandung dikenal dengan nama Parisnya Jawa dan kota kembang. Nama yang harum ini sayang
setelah kemerdekaan menjadi lenyak tanpa bekas.
Tidak lama setelah mendapapatkan kemerdekaannya kota ini sarat dibenani oleh perkembangan seperti yang
disebutkan di atas, dan yang paling membenani adalah pertambahan jumlah penduduk yang sepertinya tidak
terkendali sehingga menelan apa saja, sehingga sepertinya pemerintah sampai lupa hal yang sangat
fundamental dalam kehidupan yaitu kelestarian linkungan dan kebersihan lingkungan. Sehingga
nama Parahyangan ( tempat dewa-dewi ) Paris-nya Jawa, ataupun kota kembang sudah sama sekali
tidak relevan lagi.
Kita tidak hanya menyalahkan pemerintah, karena memang kalau kita lihat beberapa negara Muslim lainnya
seperti mesir, Irak, Iran, Pakistan, Bangladesh, apalagi yang ada di Afrika kondisinya hampir mirip.
Dan sangat sulit dimengerti mengapa hal ini terjadi seperti itu, mungkin dalam hal mental dan spiritual
ada yang mengkondisikannya.
Jawa Barat juga sebagai basis kuat dari Muslim, sepertinya penduduknya mempunyai komitment yang kuat
terhadap penyakit sosial seperti pelacuran, seks bebas dan sebagainya. Hal ini ditujukkan oleh para
gadis dan wanita yang selalu pakai jilbab, sebuah ciri di mana wanita sangat bersih dan terhormat.
Demikian juga laki-lakinya ada yang menunjukkan pakaian agama yang sangat kuat sehingga ada pemikiran
mereka itu cermin dari kebijaksanaan dan kebersihan sosial. Tapi faktanya haruslah dilihat secara seksama karena kehidupan
para gadis justri terancam seperti yang ditunjukkan oleh fakta di kota-kota.
Dari kalangan tokoh agama dan masyarakat terdengar gaung penentangan terhadap pemanfaatan gadis-gadis
untuk dijual secara komersial, dan praktek-praktek prostitusi, bahkan sampai ke meja legislatif dan
membuat undang-undang anti pornografi. Ternyata undang-undang ini ditentang oleh beberapa daerah yang
hampir tidak punya masalah dengan pornografi atau punya sedikit masalah.
Kenapa semua penampakan permukaan ini kelihatan sangat bertentangan dengan fakta di lapangan,
adalah suatu pertanyaan yang menarik untuk disimak. Perang terhadap pornografi dan kriminal ini sudah
digaungkan ratusan tahun. Malah tahun 2001 dikejutkan dengan beredarnya vidio porno dari mahasiswa
itenas Bandung, dan tahun 2007 lebih terkejut lagi karena seorang kepala daerah di Jawa Barat bersama
kepala sekolah mengisyaratkan test keperawanan bagi anak sekolah. Sungguh sesuatu yang sangat memprihatinkan.
Kalau gadis-gadis yang dijual ke orang Arab itu sudah merupakan perbincangan umum dan tidak terdengar
adanya penentangan dari tokoh masyarakat, apakah mereka tutup mata?.
Sepatutnyalah para tokoh masyarakat mau peduli terhadap hal ini bukan saja membuat desain di atas kertas
degnan kontrol ekstrinsik, tapi mencoba mendalami mental dan ethos kerja mereka. Apakah bukan dari ethos
kerja, pengaruh mitos, dan berbagai informasi sosial yang memang menjerumuskan di masa sekarang, tapi
mungkin sangat berguna di masa lampau.
|