GADIS DAN PEMUDA BALI

Gadis Bali atau cewek Bali sering menjadi bahan perbincangan serius di antara kalangan informal maupun
formal dalam menentukan nasibnya menghadapi globalisasi dengan perubahan budaya yang sangat cepet di
pulau yang kecil ini. Orang Bali merupakan keturunan campuran antara orang Malay dan ciri-ciri
mongoloid, seperti juga halnya dengan orang Jawa, orang Sasak di Lombok dan sebagian besar penduduk
Indonesia, tetapi penelitian arkeologi menunjukkan ternyata orang Bali merupakan percampuran dari
beberapa etnis lebih dari yang diperkirakan selama ini. Bukti-bukti adanya kehidupan orang berciri
melanesia telah ditemukan dalam berbagai penggalian arkeologis di Bali misalnya di Gilimanuk, desa
Petang yang terletak benar-benar di tengah pulau Bali, di daerah Ubud, dan beberapa tempat di lingkungan
Pejeng. Petunjuk adanya etnis yang berciri mongoloid juga sangat kuat yang dibuktikan dengan adanya
pengaruh China baik dalam seni, kekeluargaan dan banyak aspek kehidupan lainnya, di samping ditemukan
adanya migrasi dari Asia daratan yang ditunjukkan oleh adanya penemuan pura kuno, patung batu, dan bahkan
sebuah teknologi perunggu yang ditemukan di daerah Pejeng dengan kesamaan yang mengagumkan dengan
teknologi yang ditemukan di pedalaman Vietnam sekarang.
Dari penelitian kebahasaan hubungan ini juga
menunjukkan kedekatan yang cukup berarti. Itulah sebabnya di antara orang Bali bisa ditemukan ciri-ciri
fisik yang beragam, mulai dari warna coklat gelap sampai yang sangat cerah, dari rambut yang keriting
bundel sampai rambut seperti bulu landak. Ukuran badan sebelum tahun 1970an dengan tinggi rata-rata
160 cm, dan sekarang ini telah mencapai rata-rata 170 cm. Adanya kecendrungan meningkatnya rata-rata
tinggi badan ini mungkin disebabkan oleh perubahan compososi nutrisi. Demikian juga untuk gadis-gadis
Bali juga mengalami perubahan dalam ukuran dan bentuk badan. Pada umumnya baik para gadis maupun
pemuda cendrung mempunyai ukuran badan yang lebih tinggi dan lebih besar dari orang tuanya.
Di masa lampau para gadis atau wanita tidaklah mempunyai hak yang sama dengan pemuda atau laki-laki.
Tradisi Bali yang bodoh ini menganggap wanita tidak sejajar dengan laki-laki karena system
kemasyarakatannya berdasarkan patriarkat, bukan karena tabu seperti yang dipercayai oleh beberapa
agama maupun golongan agama tertentu, bahkan ada beberapa kelompok dari agama tertentu masih
memandang wanita itu kotor dan tabu, namun Bali bukan seperti itu, penghormatan kepada wanita ( Ibu )
sangat tinggi di Bali, tetapi haknya sebagai pewaris tidak diakui, sehingga sering wanita menjadi
orang terakhir dalam persoalan-persoalan di keluarga maunpun di masyarakat.
Para gadis tidak mempunyai hak terhadap kekayaan keluarga, dan tidak punya hak suara pada forum
masyarakat, walaupun faktanya dari masa yang tidak diingat bahwa banyak wanita Bali telah hidup
sebagai pilar dari keluarga dan masyarakat. Pasar tradisional di Bali contohnya dikuasai oleh
hampir semuanya wanita, dari bos, mediator, sampai buruh angkutnya. Silahkan saja lihat pasar-pasar
tradisional Bali.
Sebagai gadis Bali di masa lampau akan menyebabkan posisi mereka tidak aman di dalam keluarganya
sendiri, dan setelah ikut suami, juga secara sempurna di bawah kontrol suaminya atau mertuanya.
Bagaimanapun juga tradisi kuno ini telah berubah setelah Indonesia merdeka, dan kesempatan untuk
mendapatkan pendidikan secara adil antara anak gadis dan anak laki menjadi sama. Dengan demikian
suara mereka juga mulai didengar baik di keluarga maupun di forum yang lebih luas.
Bahkan dalam posisi profesionalpun tidak kalah dengan laki-laki. Sama kasusnya dengan karier
asmara mereka, di masa lampau seorang gadis Bali tidaklah bebas menentukan pilihan jodohnya
sendiri, semuanya ditentukan oleh orang tua, dan harus menerimanya. Dengan kesempatan yang sama
dalam hal pendidikan, maka mulai tahun 1970an kebebasan itu mulailah dirasakan. Faktor utama
yang menyebabkan kebebasan ini dimulai adanya hidup sendiri seorang gadis di kota berpisah dengan
orang tuanya untuk mengikuti pendidikan yang lebih tinggi. Dengan ditopang juga oleh peningkatan
ekonomi keluarga semakin banyaklah gadis Bali yang dikirim ke kota-kota terdekat untuk melanjutkan
pendidikan yang lebih tinggi.
Kecendrungan baru dalam kehidupan remaja ini bukan saja berimbas
kepada gadis tapi juga para pemuda yang melanjutkan pendidikannya di kota. Terlalu banyak orang
tua yang tidak mengerti akan perubahan budaya yang terjadi sehingga tidak mampu membekali anak-anaknya
dengan mental yang mampu mensupport tujuan mencari profesionalitas, sehingga banyak yang jatuh
ke jurang abnormalitas kehidupan seperti pergaulan bebas, narkoba, dan berandalan ataupun jatuh
ke jurang konsumerisme yang tak terbatas karena meniru gaya hidup orang kaya. Keadaan ini tidak
sepenuhnya kesalahan orang tua yang tradisional itu, tapi kesalahan sekolah-sekolah yang tidak
memahami adanya tingkatan-tingkatan hidup yang mesti ditempuh oleh seorang anak. Mungkin
kesalahan terbesar ini adalah sekolah sendiri, karena dikiranya materi akademis sendiri sudah
cukup untuk membentuk manusia yang bisa bersaing dengan kemajuan bangsa lainnya.
|